Sabtu, 21 November 2009

KEUTAMAAN AL-QUR'AN DITURUNKAN


Sesungguhnya merupakan nikmat Allah yang terbesar adalah diutusnya Nabi
Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam dan diturunkan nya al-Qur'an kepadanya
untuk memberi petunjuk kepada manusia, mengajari dan mengingatkan mereka
tentang segala yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat. Atas dasar
inilah Allah memuliakan ummat ini.

Al-Qur'an adalah kalam (firman) Allah Ta'ala, baik huruf maupun maknanya, dia
bukan makhluk. Dari Allah al-Qur'an berasal dan kepada-Nya dia akan kembali.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya,
“Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam,
dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar
kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syu'araa:195)

Al-Qur'an merupakan kitab yang universal untuk seluruh manusia, bahkan untuk
bangsa jin, untuk memberikan kabar gembira dan peringatan kepada mereka.
(periksa QS. al-Jin:2)
Al-Qur’an diturunkan kepada manusia dengan memiliki fungsi dan keutamaan  yang amat banyak.
Diantara fungsi dan keutamaan diturunkannya al-Qur'an adalah sebagai berikut:

Sebagai Petunjuk (Al Huda)

Allah Ta'ala telah berfirman,artinya,
“Alif laam miim. Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. al- Baqarah:1-2)

Dan di pertengahan surat al- Baqarah Allah juga berfirman,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil).” (QS.al- Baqarah:185)

Di awal surat al-Baqarah tersebut Allah Ta'alamenyebut al-Qur'an sebagai
petunjuk bagi orang yang bertakwa sedangkan di pertengahannya disebutkan
sebagai petunjuk bagi manusia, dan ini sifatnya umum baik bagi yang bertakwa
maupun yang tidak bertakwa.
Adapun petunjuk bagi orang bertakwa, mempunyai arti bahwa mereka mampu
mengambil manfaat dan mengambil faidah dari al-Qur'an itu, serta mereka mampu
manjadikan cahaya al-Qur'an sebagai penerang bagi mereka.
Sedangkan petunjuk bagi manusia, artinya al-Qur'an memberi penjelasan bagi
mereka mana jalan yang lurus terbimbing, jika mereka menghendaki jalan lurus
tersebut bagi diri mereka.

Jadi al-Qur'an merupakan petunjuk dilalah dan irsyad (penjelasan dan bimbingan)
bagi seluruh manusia, dan petunjuk taufiq bagi orang yang bertakwa, khususnya
mereka yang memenuhi panggilan al-Qur'an.
Jadi hidayah itu ada dua macam, yaitu hidayah taufiq wa 'amal (respon dan
aksi). Ini khusus bagi orang yang beriman, dan hidayah dilalah wa irsyad
(bimbingan dan penjelasan) yang bersifat informatif untuk seluruh umat manusia.
Allah Ta'alajuga berfirman menyifati al Qur'an,artinya,
“Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus
dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal
saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang-orang
yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang
pedih.” (QS. Al Israa':9-10)

Allah Ta'ala menyebutkan al-Qur'an sebagai petunjuk yang paling lurus (aqwam),
yaitu kepada jalan yang paling lurus dan adil yang mengantarkan kepada Allah
Ta'ala. Jika anda menghendaki untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla dan surga
Nya maka anda harus beramal dengan al-Qur'anul Karim.

Al Qur'an sebagai Ruh.

Di dalam ayat yang lain Allah menyebut al-Qur'an dengan ruh, dan salah satu
makna ruh di sini adalah segala yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna.
Sebagaimana halnnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan
jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah berfirman, artinya,
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu/al-Qur'an) dengan perintah
Kami.Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak
pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya,
yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba
Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus.” (QS. Asy Syura:52)

Al-Qur'an adalah ruh bagi hati, dan ruh hati lebih khusus daripada ruh badan.
Allah menamainya dengan ruh karena dengan al-Qur'an itu hati menjadi hidup.
Maka apabila al-Qur'an telah bertemu dengan hati pasti dia akan hidup dan
bercahaya. Dia akan mengenal Rabbnya, menyembah Allah di atas dasar bashirah
(ilmu), takut kepada-Nya, bertakwa , mencintai-Nya, meninggikan serta
mengagungkan-Nya. Ini dikarenakan al-Qur'an merupakan ruh yang menggerakkkan
hati sebagaimana ruh (nyawa) yang menggerakkan badan.
Jika nyawa masuk ke dalam badan maka dia akan menggerakkan badan itu serta
menjadikannya hidup.Demikian pula al-Qur'an, jika masuk ke dalam hati maka akan
menghidupkan serta menggerakkan hati untuk takut kepada Allah serta
mencintai-Nya. Sebaliknya jika hati tidak dimasuki al-Qur'an maka akan mati,
sebagaimana badan yang tidak punya ruh.

Maka di sini ada dua kehidupan dan dua kematian. Dua kematian adalah matinya
jasmani dan matinya hati sedang dua kehiduan adalah hidupnya jasmani dan
hidupnya hati. Hidupnya badan berlaku bagi mukmin dan kafir, orang takwa dan
orang fasik, bahkan seluruh manusia dan hewan tidak ada bedanya. Yang
membedakan adalah hidupnya hati, dan ini tidak didapati kecuali pada hamba
Allah yang mukmin dan muttaqin. Adapun orang kafir dan binatang ternak maka
mereka kehilangan hidupnya hati, meskipun badan dan jasmani mereka hidup.


Al Qur'an sebagai Cahaya

Allah menamai al-Qur'an dengan Nur (cahaya), yaitu sesuatu yang menerangai
jalan yang terbentang di hadapan manusia sehingga tampak segala yang ada di
hadapannya. Apakah ada lobang, ataukah duri lalu menghindarinya, dan kelihatan
pula jalan yang selamat sehingga dia manempuh jalan itu.

Orang yang tidak mempunyai cahaya maka dia berada di dalam kegelapan, tidak
bisa melihat lobang serta duri, tidak mengetahui adanya bahaya karena memang
tidak mampu untuk melihat.
Kita semua tahu adanya cahaya yang mampu kita lihat, seperti cahaya matahari,
lampu,lentera dan cahaya yang lain. Dengan adanya cahaya inilah kita tahu
bagaimana sebaiknya berjalan di jalanan, di pasar, di rumah dan kita tahu
dengan cahaya itu apa yang perlu untuk kita jauhi dan waspadai.

Akan tetapi cahaya al Qur'an adalah cahaya maknawi yang memperlihatkan kepada
anda apa yang bermanfaat bagi anda dalam urusan agama maupun dunia, menjelaskan
kepada anda yang hak dan yang batil, menunjukkan jalan menuju surga sehingga
anda menempuhnya berdasarkan cahaya dan bimbingan Allah Subhannahu wa Ta'ala .
Al-Qur'an adalah nur maknawi yang dengannya anda dapat membedakan jalan yang
terang dari jalan yang gelap, membedakan jalan surga dari jalan neraka.
Dengannya engkau akan tahu mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya, engkau
tahu kebaikan dan keburukan. Maka al-Qur'an adalah cahaya semesta alam untuk
menuju jalan kesuksesan, kebahagiaan dan kemenangan di dunia dan di akhirat.

Al Qur'an sebagai Pembeda

Allah Ta'ala juga menyifati al Qur'an sebagai Furqaan (pembeda) sebagai mana
firman-Nya, artinya,
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu al-Qur'an) kepada
hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al
Furqaan:1)

Artinya al-Qur'an membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara yang
lurus dengan yang sesat, yang bermanfaaat dan yang berbahaya. Dia menyuruh kita
semua mengerjakan kebaikan dan melarang kita dari perbuatan buruk dan dia
memperlihat kan segala apa yang kita perlukan untuk urusan dunia dan akhirat,
maka dia adalah furqan dalam arti membedakan antara yang hak dengan yang batil.


Al Qur'an sebagai Obat Penawar

Allah Subhannahu wa Ta'ala juga menyebut al-Qur'an ini sebagai syifa'(obat
penawar), Dia berfirman, artinya,
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus:57)
Dia merupakan obat bagi penyakit yang bersifat hakiki (yang menimpa badan) dan
penyakit yang sifatnya maknawi (yang menimpa hati). Merupakan obat bagi
penyakit badan, dengan cara membacakannya untuk orang yang sakit atau terkena
ain (hipnotis), kesurupan jin dan semisalnya.

Dengan izin Allah Subhannahu wa Ta'ala orang yang sakit akan menjadi sembuh
jika bacaan tersebut berasal dari hati seorang mukmin yang yakin kepada-Nya.
Apabila keyakinan yang kuat berkumpul antara orang yang membacakannya dengan
yang di bacakan untuknya maka Allah akan memberikan kesembuhan bagi si sakit.

Al-Qur'an juga merupakan obat bagi penyakit maknawi, seperti penyakit ragu-ragu
(syak), syubhat (kerancuan), kufur dan nifak. Penyakit-penyakit ini jauh lebih
berbahaya daripada penyakit badan.
Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit badan karena penyakit badan
ujung penghabisannya adalah mati sedangkan mati itu pasti terjadi dan tidak
mungkin dapat ditolak. Penyakit hati jika dibiarkan terus menerus maka akan
menyebabkan matinya hati , rusak secara total sehingga si empunya hati menjadi
seorang kafir, condong kepada kaburukan , fasik. Dan tidak ada obat baginya
selain daripada al-Qur'an yang telah diturunkan oleh Allah sebagai obat.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya,
“Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Israa':82)
Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan al-Qur'an sebagai obat bagi orang mukmin
dan mengkhususkan itu untuk mereka karena hanya orang mukmin saja yang mampu
mengambil manfaat dan mengambil petunjuk dengan al-Qur'an itu sehingga hilang
dari mereka segala was-was, keraguan dan syubhat dari dalam hati mereka.

Sedang orang-orang munafik dan orang-orang kafir serta pelaku kemusyrikan maka
mereka tidak dapat mengambil faedah dari al Qur’an selagi mereka masih terus
menerus berada di atas kemusyrikan, kemunafikan dan kekufuran mereka. Kecuali
jika mau behenti dari semua itu dan bertobat kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala.

Semoga Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikan kita semua sebagai ahli al-Qur’an
yang senantiasa membaca, memahami dan mengamalkan isinya. Amin ya Rabbal
‘alamin.

Diambil dari muqaddimah kitab “Tadabbur al-Qur’an”, Syaikh Shalih bin Fauzan
al-Fauzan (Ibnu Djawari)
www.alsofwah.or.id

Bergabung,,,,, yock

Followers

 

IKLIM FM malaysia

HOT FM malaysia

RADIOBOX ISLAMIC

EDY JEPARA Copyright 2010 Edy jepara ][ BengkelService Mobil Facebook edy putra